gus dur tentang syiah
Selainitu, ada pandangan yang unik dari Gus Dur mengenai Negara Islam yang sangat berbeda dengan pandangan banyak tokoh lainnya. Beliau menganggap bahwa
BeliBuku Tentang Gus Dur Online terdekat di Yogyakarta berkualitas dengan harga murah terbaru 2021 di Tokopedia! Pembayaran mudah, pengiriman cepat & bisa cicil 0% Website tokopedia memerlukan javascript untuk dapat ditampilkan.
UstadzSegaf juga mengungkapkan, pemikiran-pemikiran Gus Dur juga sangat pas dengan pendapat-pendapat Islam Syiah, sedangkan perbedaan-perbedaan selama ini
BeliShalawat Gus Dur ? Syi’ir tanpa waton - H.Mahrus Ali di Buku Beta. Download Tokopedia App. Tentang Tokopedia Mitra Tokopedia Mulai Berjualan Promo Tokopedia Care. Kategori. Masuk Daftar. rtx 2060 rtx 3060 iphone 13 pro sepatu pria iphone 6s samsung a52. Home; Buku; Sosial Politik; Buku Biografi; Shalawat Gus Dur ? Syi’ir tanpa
Jadi, kenapa saya Syiah? Gus Dur lah yang harus bertanggungjawab, karena saya di-Syiah-kan oleh Gus Dur.” Demikian guyonnya. Cinta Persaudaraan Saya tak tahu
Site De Rencontre Avec Des Hommes Riches. Oleh Maulina Dewi SYIAH merupakan sebuah sekte yang muncul pasca wafatnya Baginda Nabi. Sebagaimana yang dicatat oleh Imam al-Asy’ari dalam kitab Maqālat Islāmiyyin bahwa awal mula perselisihan yang terjadi pada umat Islam —pasca wafatnya Rasulullah ﷺ — adalah perselisihan dalam perkara Imamah kepemimpinan”. Setelah Kaum Anshar mengatakan “Kita semua sama-sama memiliki sosok pemimpin” Minna amīrun wa minkum amīrun akhirnya kepemimpinan pun jatuh di tangan Abu Bakar. Begitu juga yang terjadi pada khalifah ketiga, Ustman bin Affan, dan keempat, Ali bin abi thalib yang pada saat itu sedang memuncaknya perseteruan. Ahmad Amin, salah seorang sastrawan Mesir, juga menjelaskan dalam bukunya Fajr al-Islam bahwa sebenarnya benih Syiah telah muncul tepat pasca Rasulullah ﷺ wafat. Mereka yang mempelopori sekte ini menganggap bahwa hak kekuasaan dalam kepemimpinan hanya sah diberikan kepada ahlu bait. Ahlu bait yang paling utama menurut pandangan mereka adalah Abdullah bin Abbas dan Ali bin Abu Thalib dengan lebih mengunggulkan Ali dibanding Ibn Abbas. Kekuatan sekte ini membubung tinggi saat kekhalifahan benar-benar telah sampai pada tangan Ali bin Abi Thalib. Setelah pembaiatan Sayyidina Ali, Kufah dijadikan markaz pemerintahan, sehingga di sanalah akar syiah tertanam kuat yang kemudian menyebar ke suluh penjuru bumi lihat Hayat al-Syi’ir fi al-Kufah Demikian paparan peneliti INSISTS, Dr. Syamsuddin Arif dalam Diskusi Ilmiah yang diadakan oleh Senat Mahasisiwa Fakultas Ushuludin Universitas Al-Azhar yang bekerjasama dengan Ruwaq Indonesia dalam tema “Menyorot Syiah di Indonesia” Sabtu 09/02/2019 lalu. Dalam pandangan Dr. Syamsuddin, sebelum memaparkan tentang Syiah, sebaiknya kita membuat distingsi terlebih dahulu; apa yang dimaksud dengan Syiah, siapa dan apa masalahnya? Karena orang awam di Indonesia banyak yang terkecoh hanya karena tidak paham. Sebagai contoh, mereka sangat mudah ditipu oleh berbagai pendapat yang berdalih bahwa kata syiah’ merupakan kata yang disebutkan dalam al-Qur`an. Padahal kalimat yang disebutkan dalam al-Qur`an tidak berarti memliki makna kebenaran. Misalnya, kata fir’aun’ lebih banyak disebutkan daripada Muhammad, apa lantas disimpulkan peran fir’aun yang di gambarkan adalah benar? Tentunya tidak. Syiah yang disebut dalam al-Qur`an bisa kita beri makna secara terminologis. Untuk mencairkan suasana dan mempermudah penjelasan, intelektual muslim kelahiran 71 ini memberikan sebuah contoh sederhana dengan mengatakan “idza kuntum tansuruna Jokowi, fa antum Syiah Jokowi”, jika kalian berpihak pada kubu Jokowi, misalnya, artinya kalian adalah pengikutnya. Tetapi yang disinggung dalam pembahasan Syiah disini tentunya lebih spesifik dari area terminologis. Baca Soroti Syiah di Indonesia, Senat Mahasiswa Ushuluddin Al Azhar Kairo Adakan Dialog Beranjak dari makna terminologis, kita akan mendapati Syiah dalam sekte-sekte Islam —yang terpaparkan dalam permasalahan firaq islamiyah— sebagai Syiah dalam ranah politis. Sekte ini bermula dari perang sipil yang akhirnya meletus setelah terbunuhnya Sayyiduna Utsman bin Affan. Golongan Syiria dikomandoi oleh Muawiyah, yang menolak untuk mengakui legitimasi khalifah keempat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Di sisi lain terdapat kelompok yang menyetujui Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah, dan inilah yang disebut sebagai Syiah atau kelompok yang mendukung Ali bin Abi Thalib. Namun semua itu telah terjadi 1400 tahun yang lalu. Artinya, wafatnya para sahabat telah menjadi penutup lembaran Syiah politis. Lalu Syiah yang bermunculan setelah zaman sahabat itulah yang dinamakan Syiah ideologis worldview. Akidah mereka berbeda dengan Ahlus Sunah. Dapat dilihat indikasinya dari tiga pembagian syiah; pertama, Syiah Tafdhil golongan yang meyakini bahwa sayyidina Ali bin AbiThalib merupakan sahabat yang paling utama tanpa mengkafirkan sahabat yang lain. Kedua, Syiah Rafdh golongan yang mengingkari tiga khalifah sebelum Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ketiga, Syiah Ghuluw golongan yang mengkuduskan, mendewakan bahkan menuhankan sayyidina Ali dan para imam garis keturunan sayyidina Hussein Ra. Penyebaran Syiah telah sampai di belahan bumi Asia tenggara, salah satunya Indonesia. Meskipun dalam hal ini golongan Syiah di indonesia minoritas tetapi ada indikasi bahwa Syiah terus berkembang, baik secara kualitas maupun kuantitas di berbagai kota. Ustadz alumni Ponpes Darussalam Gontor tersebut mejelaskan bahwa terdapat beberapa pendapat yang tersebar di Indonesia mengenai Syiah. Ada yang menganggap bahwa syiah hanya madzhab, ada yang berdalih banyak persamaan antara syiah dan Ahlus Sunah, dan ada juga argumen yang mengatakan bahwa Syiah itu tidak monolitik. Di Indonesia sebagian orang berusaha mencari titik temu, mencari kesamaan-kesamaan, entah disengaja atau tidak dengan mengabaikan perbedaan-perbedaanya. Dr Syamsuddin mengutip perkataan pak Kiyai Abdurrahman Wahid, mantan presiden RI keempat, “Syiah adalah NU plus imamah dan NU adalah Syiah tanpa imamah”. Maksudnya, presiden yang sohor dipanggil Gus Dur itu menggarisbawahi perbedaan di antara keduanya yaitu persoalan Imamah. Peneliti INSISTS tersebut juga mengutip perkataan direktur jenderal pendidikan Islam kementrian agama yang kontradiksi dengan pemaparan sebelumnya. Kutipan tersebut berbunyi, “Ketika Sunni dan Syiah mengatakan Tuhan yang sama, nabi yang sama, kiblat dan syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan? Tentunya ini menyalahi akidah. Padahal orang Syiah sendiri, seorang profesor dari Iran yang berwargannegara Amerika mengatakan dalam Ensiklopedia Iranika “Ideologi Syiah berkisar pada keyakinan mengenai imam yang disebut Imamologi”. Bagi orang Syiah, imam itu ma’shum bersih dari dosa, atau menyamakan derajatnya dengan Nabi dan Rasul, bahkan mereka meyakini imam adalah hujjah bagi umat Islam, dan pada diri imam-imam tersebut terdapat titisan ruh dari imam yang sebelumnya. Imam yang mati sebelumnya dipercayai hanya sembunyi, hingga suatu saat nanti akan kembali. Oleh karenanya ada istilah aqidah roj’ah’, imam qoim’ yang berdiri atau bangkit dan imam qoid’ pasif atau yang tidak melawan pemerintahan melainkan hanya pemimpin spiritual dalam komunitas Syiah.” Baca Al-Azhar, Sunni dan Syiah Yang menjadi masalah kita terhadap ajaran mereka di antaranya adalah; penghinaan mereka kepada para Sahabat Nabi, gemar memalsukan hadis dan kepercayaan mereka adanya konsep tanâsukh pindahnya roh nabi kepada para imam mereka. Menurut Dr. Syams, ada tiga kata yang dapat mewakili sosok mereka, i Deviator penyimpang, ii Koruptor perusak, dan iii Fabrikator pemalsu. Lalu jika ingin ditelisik lebih dalam mengenai Syiah ideologi ini, kita akan menemukan konsep yang bernama Huseinsentris’. Dalam Kitab al-Ma’ārif karya Ibnu Qutaibah disebutkan silsiah sekaligus nama-nama istri dan keturunan Sayyidina Ali. “Putera dari seluruh istrinya berjumlah 21, tetapi yang ramai di telinga kita hanya Hasan dan Hussein, lalu yang sembilan belas kemana? Mengapa yang dinobatkan sebagai imam hanya dari garis keturunan sayyidina Hussein?,” ujar Dr. Syams. Jawabannya bisa ditemukan pada sebuah legenda versi mereka. Legenda yang mereka yakini benar-benar suatu peristiwa yang pernah terjadi dahulu kala. Bahwa Persia runtuh setelah diserang dan ditaklukan oleh muslim sejak masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Lalu disempurnakan pada zaman Sayyidina Umar bin Khattab. Dalam legenda tersebut disebutkan bahwa Raja Persia, Yazdegerd III memiliki seorang putra dan dua orang putri. Riwayat menyebutkan bahwa kedua putri raja tersebut dibawa ke Madinah sebagai tawanan perang. Kala itu sebagian sahabat mengingat pesan Rasulullah ﷺ, jika ada orang yang dihormati kaumnya, hendaknya para sahabat juga menghormatinya idza atâkum karîmu qawmin fa-akrimûhu . Karena putri-putri itu termasuk bangsawan yang disegani, maka mereka tidak ditawan, bahkan salah satunya, Shahrbanu dinikahkan dengan Sayyidina Hussein. Dari rahim putri Shahrbanu lahirlah seorang imam yang dikenal dengan Ali Zainal Abidin. Merupakan salah satu budaya penduduk Iran menyebut nama seorang putri bangsawan dengan sebutan penghormatan. Mereka menyebut Shahrbanu dengan sebutan bibi, sebutan untuk perempuan suci. Sampai sekarang warga Iran percaya bahwa makam Bibi Shahrbanu masih ada, sehingga didirikan di atasnya bangunan untuk menjadi tempat ziarah di Teheran bagian selatan. Mereka mempercayainya sebagai tempat mustajab yang bisa mengabulkan segala doa yang dipanjatkan para perempuan. Makam tersebut berada di atas puncak bukit di Teheran selatan. Ribuan wanita berdesakan di sekitar makam, menangis, mencari pelipur hati dan keberkahan. Bagi warga Iran, pernikahan Imam Hussein dengan Bibi Shahrbanu yang merupakan ibu dari imam Syiah yang keempat itu ditamsilkan sebagai pernikahan antara Iran dan Islam. Hasil perkawinan inilah yang melahirkan Syiah ideologi. Oleh karenanya dari perspektif sosiologis, papar Dr. Syams, Syiah adalah perkawinan antara iranisasi dan islamisasi, dan imamologi syiah bisa dilacak di sini. Mereka hanya menta’dzimkan keturunan imam Hussein, karena darinya bertemu darah biru Quraisy dan Persia. Pertemuan dua nasab ini menjadi pelumas berkembangnya Syiah. Baca Ketika Syiah Menguasai Mesir Ditambah lagi dengan terjadinya peristiwa Karbala, yaitu pada saat Sayyidina Hussein dan kerabat-kerabatnya tewas bertempur dalam pertempuran tidak seimbang antara pasukan Ibnu Ziyad Gubernur Kufah masa itu dan pasukan Sayyidina Hussein yang jumlahnya lebih sedikit lihat Tarikh al-Thabary, v/347-351. Tragedi tragis tersebut menjadi bahan bakar ideologi Syiah sekaligus sendi penyebaran ajaran mereka. Bahkan untuk memperingati Hari Asyura yang memilukan itu, komunitas Syiah di berbagai belahan dunia —ikut serta didalamnya komunitas Syiah Indonesia— mengadakan kegiatan seremonial dengan penyiksaan diri berdarah sebagai bentuk penebusan kesalahan masa lalu nenek moyang mereka. Keberadaan Syiah di Indonesia tidak berkesudahan menuai serang-menyerang dalam selimut antar umat Islam di bawah naungan ormas masing-masing. Jika dibiarkan, perkara ini mengancam persatuan agama dan kebangsaan. Ironisnya, mereka sangat berpegang teguh pada ajaran ideologinya dengan bertaqiyah menyembunyikan ke-Syiahannya dalam penyebaran dakwah. Suara mereka sangat sulit dideteksi sebab tidak mengaung lantang. Benda semu sebaiknya diterawang dengan penglihatan mikroskop, atau setidaknya tidak dengan kacamata yang sama semunya. Dalam bahasanya Dr. Syams, “Kalau kita memandang sesuatu yang eror dengan otak yang eror pula, maka negara akal sehat pun tak akan pernah terwujudkan”. Tawa para tamu undangan serentak menggemuruhkan aula. Sebelum penulis buku berjudul “Bukan sekedar Madzhab Oposisi dan Heterodoksi Syiah” itu menutup pemaparannya, beliau berpesan agar kita bersungguh-sungguh dalam belajar selagi kesempatan masih terbuka lebar di hadapan kita, karena dengan begitu kita akan mengetahui sesuatu dengan hakikat pengetahuan. “Sebagai mahasiswa Indonesia yang belajar di al-Azhar, hendaknya kalian juga mempelajari tentang Syiah. Sebab Syiah telah, masih dan akan hidup di antara masyarakat kita di Indonesia,” ujar Dosen Senior Pascasarjana UNIDA Gontor ini.* Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar Mesir dan Pimpinan Majalah Latansa Kairo periode 2017-2018
Ulama ensiklopedis, demikian cendekiawan muda NU Zuhairi Misrawi menyebut KH Jalaluddin Rakhmat, itu telah pulang ke Rahmatullah, Senin, 15 Februari lalu. Terus terang, saya sangat kaget. Tak dengar kabar sakitnya. Begitu tiba-tiba, Covid-19 telah merenggutnya, menyusul istri tercinta yang wafat empat hari sebelumnya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’ akhir Desember lalu, saya dan Haddad Alwi, sebenarnya sudah merencanakan sowan ke Bandung. Tak lain, ingin mendiskusikan banyak hal, tentang ukhuwah Islamiyyah, tentang persaudaraan kebangsaan, dan lain-lain. Tapi belum terlaksana, Kang Jalal, begitu Jalaluddin Rakhmat kerap disapa, sudah kembali ke kita semua kehilangan. Bagi saya pribadi, Kang Jalal sudah tak asing lagi. Namanya sudah saya kenal sejak awal 1990-an. Di antara karyanya, seperti Islam Alternatif 1986, Islam Aktual 1991, Renungan Sufistik 1991, juga Retorika Modern 1992, menjadi bacaan “wajib” yang sampai saat ini masih suka saya telaah 1993, bersama kawan-kawan gerakan dan forum kajian di Jombang, dulu pernah menghadirkannya dalam kajian tentang pemikiran Ali Syari’ati. Pemikiran yang sangat digandrungi para mahasiswa saat itu. Mereka merindukan gerakan alternatif mungkin karena kebuntuan-nya dalam menghadapi “represivitas” Orde Baru. Kang Jalal menyuntikkan semangat khusus, “virus” spiritualitas, di tengah dahaganya gerakan aksi mahasiswa yang seringkali hanya bermodalkan spanduk, pers release, dan kadang “caci maki” situlah, untuk pertama kalinya, saya bertemu dan berbincang cukup lama. Kang Jalal sangat santun dan bersahaja. Saya waktu itu baru berumur 23 tahun, sementara Kang Jalal sudah 45 tahun. Jarak yang cukup jauh, tak membatasi keakraban kami. Sikap “ngemong”-nya bagi saya luar biasa. Keramahannya, mau menjadi pendengar yang baik, dan friendly, itulah akhlaq yang harus kita yang sejak lahir memang NU, saat itu sudah aktif di PMII, tentu sangat mengagumi Gus Dur. Bahkan kemudian kawan-kawan sering menyebut saya Gusdurian. Di situlah kemudian saya “menyambungkan-diri” dengan Kang Jalal. Ternyata efektif. Mungkin karena dia juga ahli komunikasi, pertemuan saat itu menjadi sangat komunikatif. Tak ada jarak, meskipun saat itu Kang Jalal terbilang sudah menjadi cendekiawan ternyata, baru saya ketahui belakangan ini, menurut pengakuan Kang Jalal sendiri, dia lahir dan dibesarkan di lingkungan NU. Hanya kemudian, setelah pindah ke kota, kuliah di Bandung, dia lebih aktif di Muhammadiyah. Dengan demikian, hemat saya, Kang Jalal adalah NU yang Muhammadiyah atau sebaliknya, sebutan yang nge-trend Muhammad Gus DurTeman saya, Wakil Katib Syuriyah PBNU Sa’dullah Afandi, berbagi cerita kenangan. Saat itu, tepatnya pada 1997, dia ditugaskan redaktur Warta NU untuk wawancara khusus dengan Kang Jalal di Bandung. Seusai wawancara, dia memberanikan diri bertanya secara pribadi. “Kang, kenapa Anda seorang Muhammadiyah koq hijrah’ ke Syiah?” Demikian Jalal pun kemudian membuka cerita. Bahwa dia—yang saat itu sudah menjadi mubaligh yang punya nama di Muhammadiyah—telah bertahun-tahun mengisi pengajian bulanan di RS Yarsi Jakarta. Tentu kajian tentang Ke-Muhammadiyah-an yang selalu ketika pendiri RS tersebut meninggal, dia diundang pengajian yang jamaahnya sebagian besar ibu-ibu tersebut, ternyata ada tahlilan juga. “Wah, saya telah gagal me-Muhammadiyah-kan jamaah pengajian ini.” Gumam Kang Jalal saat itu. Bingung, kaget, juga pengajian Yarsi itu, mayoritas adalah pendatang dari Jawa yang sudah terbiasa dengan tradisi tahlilan di daerah asalnya. Menurut Kang Jalal, mereka sudah tak berpikir lagi bahwa amalan tersebut sebagai perbuatan bid’ah, tetapi justru menjadi bagian dari kearifan lokal yang sudah turun-temurun dilakukan untuk mendoakan orang yang sudah Jalal pun akhirnya “curhat” tentang kekecewaannya itu kepada Gus Dur. Seperti biasa, Presiden ke-4 RI itu hanya tertawa. Bukannya mengajak kembali ke NU, tapi justru merekomendasikan putra Kang Jalal untuk belajar Syiah ke Iran, ketika dia meminta rekomendasi Gus Dur—yang saat itu sebagai Ketua Umum PBNU—untuk beasiswa putranya cukup disitu, Gus Dur bahkan juga mengantar Kang Jalal dan putranya ke Iran, menitipkan langsung kepada ulama Syiah di menarik adalah cerita tentang obrolan Kang Jalal dengan Gus Dur, dalam perjalanan pulang dari Iran.“Gus, kenapa anak saya harus belajar ke Iran?”“Gini Kang, sampean kan kecewa menjadi mubaligh Muhammadiyah yang gak direken jamaah yang sudah puluhan tahun sampean bina. Mending sampean belajar Islam Syiah saja.”Iklan “Kenapa gak diajak ke NU saja, Gus?”“Di NU itu sudah banyak kiai yang alim dan pinter kitab kuning. Sampean nanti paling cuma jadi santri, jadi jamaah mereka. Tapi kalau di Syiah, sampean pasti jadi tokoh.”Kang Jalal kaget. Gus Dur hanya terkekeh. Akhirnya, mereka pun tertawa Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia IJABI Jalaluddin Rakhmat kanan didampingi Ketua Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia Muhsin Daud Poliraja kiri memberikan keterangan terkait dengan penyerangan pesantren Syiah di sampang beberapa waktu lalu, Jakarta, Sabtu, 31 Desember 2011. ANTARA/M Agung RajasaSejak itulah, Kang Jalal sering diundang ke Iran, mengikuti kegiatan dan pertemuan internasional di negeri Persia tersebut. Kemudian, dia pun menjadi tokoh utama Syiah Indonesia, dengan mendirikan IJABI Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia.Kang Jalal tak memungkiri, itu semua adalah “berkah” Gus Dur, yang telah membuka jalan ke Iran. “Jadi, kenapa saya Syiah? Gus Dur lah yang harus bertanggungjawab, karena saya di-Syiah-kan oleh Gus Dur.” Demikian PersaudaraanSaya tak tahu pasti kebenaran cerita tersebut. Tapi saya meyakini bahwa hal itu benar adanya. Karena bagaimanapun, tokoh-tokoh yang kita kagumi itu adalah pribadi yang jujur dan terbuka. Kalau demikian, menurut saya, betapapun hebatnya Kang Jalal sebagai tokoh Syiah selama ini, dia ternyata masih menyandarkan kepada Gus saya, itu sah-sah saja. Gus Dur adalah tokoh besar. Terlebih saat itu, sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Dur memang harus mengayomi “umat”, dari mana pun asalnya. Sebagai seorang pluralis, Gus Dur harus pula membuka jalan “kebenaran” untuk siapa saja yang mau dengan tulus dan konsiten muslim dan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia IJABI, Jalaludin Rakhmat berpose dengan sampul buku karyanya berjudul “Life After Death - The Ultimate Journey” yang diluncurkan 29 Agustus 2012. TEMPO/Praga UtamaBegitu pula Kang Jalal. Dengan kejujurannya itu, dapat dipastikan, dia bukanlah penganut Syiah yang eksklusif. Dia bukanlah bagian dari penganut “paham yang salah”, yang hanya suka dan terbiasa menyalahkan mereka yang tidak se'alim Kang Jalal, tentulah juga sangat memahami NU. Terlebih, dia memang lahir dan dibesarkan di lingkungan nahdliyin. Saya yakin, kapasitas ke-NU-annya tak sekadar formal dan ritual, apalagi simbolik semata. Kang Jalal adalah pecinta ilmu, pembaca yang sempurna, tentu dapat dipastikan dia sangat memahami Khittah dan prinsip ajaran Hadlratus-Syaikh KH Hasyim Asy'ari paling fundamental di antara ajaran Bapak pendiri NU itu, sebagaimana termaktub dalam Qanun Asasi 1926, adalah“Persatuan, ikatan batin satu dengan yang lain, saling bantu menangani satu perkara dan se-iya sekata, merupakan penyebab kebahagiaan yang terpenting dan menjadi faktor paling kuat untuk menciptakan persaudaraan dan kasih sayang.”Dalam konteks itulah, saya juga memahami pemikiran Kang Jalal selama ini. Berikut sikap, tindakan, dan laku hidupnya. Terutama yang berkaitan dengan komitmen dalam mewujudkan persaudaraan sesama, dengan landasan cinta yang senantiasa digelorakannya. Baik cinta sesama muslim, sesama warga bangsa, maupun sesama umat manusia. Dalam hal ini, dia sering mengutip salah satu pesan utama Imam Ali bin Abi Thalib “Manusia itu ada dua golongan, yaitu golongan yang bersaudara dalam satu agama, dan golongan yang bersaudara sesama ciptaan Tuhan.”Inti ajaran itulah yang melandasi gerakan Kang Jalal. Yakni, cinta persaudaraan. Tak hanya berhenti di situ, dia telah berikhtiar nyata selama ini, mewujudkan persaudaraan atas dasar cinta dan kasih sayang. Karena di sinilah sejatinya esensi dari prinsip ajaran Islam rahmatan lil amin.
gus dur tentang syiah